Di tengah lanskap kripto yang didominasi oleh teknologi canggih dan algoritma kompleks, elemen non-teknis, yaitu Kekuatan Komunitas, justru menjadi faktor pendorong paling revolusioner. Proyek-proyek yang awalnya ringan seperti Meme Coin dan organisasi yang berprinsip pada Decentralized Autonomous Organization (DAO) telah bersatu untuk mendefinisikan ulang tata kelola digital. Kekuatan Komunitas dalam konteks ini berarti kapasitas kolektif dari para pemegang token untuk membuat keputusan, mengarahkan pengembangan proyek, dan mengalokasikan dana tanpa memerlukan otoritas pusat yang hirarkis. Fenomena ini tidak hanya menantang model korporat tradisional tetapi juga menciptakan mekanisme pengambilan keputusan yang lebih transparan dan inklusif.
Meme Coin, meskipun sering dimulai sebagai lelucon atau tribute budaya internet, membuktikan bahwa adopsi massal dan nilai dapat didorong murni oleh sentimen kolektif dan partisipasi akar rumput. Berbeda dengan aset yang nilainya didukung oleh aset dunia nyata atau fungsi teknis yang kompleks (utility), nilai Meme Coin didorong oleh narasi, hype, dan yang terpenting, dedikasi komunitasnya. Misalnya, kenaikan harga luar biasa yang dialami oleh salah satu Meme Coin pada Mei 2021 sebagian besar disebabkan oleh koordinasi komunitas yang kuat di platform media sosial, yang menunjukkan Kekuatan Komunitas dalam memengaruhi dinamika pasar secara real-time.
Di sisi lain, DAO adalah struktur formal yang menginstitusionalisasi kekuatan kolektif ini. DAO adalah entitas yang dijalankan oleh Smart Contracts di blockchain, di mana setiap proposal perubahan atau keputusan penting—mulai dari alokasi dana perbendaharaan ($*treasury*$) hingga penyesuaian parameter protokol—harus disetujui melalui pemungutan suara oleh para pemegang token. Sistem tata kelola ini menetapkan bahwa kepemilikan token sama dengan hak suara. Misalnya, sebuah DAO yang mengelola protokol pinjaman besar mungkin memiliki perbendaharaan dana sebesar $500 juta. Jika ada proposal untuk mengalokasikan $5 juta untuk bug bounty (hadiah pencarian bug kode), proposal tersebut harus melewati periode debat publik selama 7 hari, diikuti dengan periode pemungutan suara selama 48 jam, di mana setiap token yang dimiliki oleh anggota DAO berfungsi sebagai satu suara. Keputusan ini secara otomatis dijalankan oleh Smart Contract tanpa memerlukan CEO atau dewan direksi.
Inovasi dari DAO terletak pada transparansi dan imutabilitas. Setiap proposal dan hasil pemungutan suara dicatat secara permanen di blockchain, tersedia untuk diaudit oleh publik, meminimalkan potensi korupsi atau manipulasi internal. Selain itu, DAO memungkinkan partisipasi global; seorang pemegang token di Indonesia dapat memberikan suara pada proposal yang memengaruhi pengembangan protokol di Amerika Serikat, memperjuangkan Kekuatan Komunitas tanpa hambatan geografis. Struktur ini mendefinisikan ulang tata kelola digital dengan cara yang adil dan terbuka. Meskipun demikian, DAO menghadapi tantangan, seperti risiko whale (pemegang token dalam jumlah sangat besar) yang dapat memengaruhi pemungutan suara dan lambatnya pengambilan keputusan, terutama saat terjadi krisis mendesak yang memerlukan respons cepat dalam hitungan jam. Namun, model ini tetap mewakili masa depan yang menjanjikan di mana Kekuatan Komunitas adalah aset finansial dan penggerak strategis.
